Puyuh Gonggong Biasa, Burung Endemik yang Rentan Punah

thebirdsnestpub – Puyuh gonggong biasa menyimpan keunikan yang sulit ditemukan pada burung lain di Indonesia. Selain memiliki wilayah hidup yang sangat terbatas di Jawa Timur, burung ini mengeluarkan suara melengking yang terdengar menyerupai gonggongan anjing.

Keunikan itu mendorong peneliti Universitas Jember (UNEJ) mempelajari kehidupan burung tersebut lebih dalam. Penelitian menjadi semakin penting karena spesies bernama ilmiah Arborophila orientalis ini menghadapi tekanan serius terhadap habitatnya dan berstatus rentan atau Vulnerable.

Bagi kawasan Jember dan sekitarnya, keberadaan burung ini juga memiliki makna lebih besar. Puyuh tersebut dapat menjadi simbol kekayaan biodiversitas kawasan Pandalungan sekaligus pengingat bahwa fauna endemik bisa menghilang ketika habitat alaminya terus menyusut.

Puyuh Gonggong Biasa Hanya Hidup di Wilayah Terbatas

Salah satu keistimewaan puyuh gonggong biasa terletak pada wilayah persebarannya yang sempit. Peneliti FMIPA Universitas Jember, Arif Mohammad Siddiq, menyebut burung ini hidup di kawasan dataran tinggi Hyang Argopuro, kompleks Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri.

Wilayah tersebut berada di bagian timur Pulau Jawa. Karena sebarannya terbatas, perubahan lingkungan pada kawasan itu dapat memberikan dampak besar terhadap kelangsungan populasinya.

Data BirdLife mengenai Arborophila orientalis juga mencatat persebarannya terbatas di bagian timur Jawa Timur. Catatan historis mencakup Dataran Tinggi Hyang, Ijen, Gunung Raung, serta kawasan Meru Betiri.

Karena itu, istilah fauna endemik Jember sering dipakai untuk memperkenalkan burung ini kepada masyarakat lokal. Namun, secara lebih tepat, spesies tersebut merupakan burung endemik kawasan pegunungan di Jawa Timur bagian timur.

Nama Ilmiahnya Arborophila orientalis

Nama ilmiah yang diterima dalam basis data taksonomi adalah Arborophila orientalis. Spesies ini juga dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Grey-breasted Partridge atau, dalam sejumlah klasifikasi, White-faced Partridge.

Burung tersebut masuk kelompok Phasianidae, keluarga yang juga mencakup berbagai jenis ayam hutan, kuau, dan partridge.

Identitas ilmiah ini penting karena nama lokal dapat berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain. Sementara itu, nama ilmiah membantu peneliti memastikan bahwa mereka membahas spesies yang sama.

Mengapa Disebut Puyuh Gonggong?

Nama puyuh gonggong biasa terdengar tidak lazim. Namun, nama tersebut justru berasal dari salah satu ciri paling mudah dikenali.

Menurut Arif, burung ini menghasilkan suara melengking yang terdengar seperti gonggongan anjing. Karakter suara itulah yang kemudian membuat pengamat burung mengenalnya sebagai puyuh gonggong.

Suara memainkan peran penting bagi banyak burung hutan. Burung menggunakannya untuk berkomunikasi, menjaga wilayah, mencari pasangan, atau mempertahankan kontak dengan anggota kelompok.

Selain itu, suara menjadi petunjuk penting bagi peneliti.

Hutan pegunungan memiliki vegetasi rapat sehingga pengamat sering sulit melihat burung secara langsung. Oleh sebab itu, suara, jejak, serta rekaman kamera dapat membantu mengonfirmasi keberadaan suatu spesies.

Hidup Berkelompok di Hutan Pegunungan

Penelitian UNEJ menemukan bahwa puyuh gonggong biasa hidup dalam kelompok yang berisi sekitar lima hingga 15 ekor.

Burung tersebut dapat ditemukan pada ketinggian sekitar 500 sampai 2.200 meter di atas permukaan laut. Namun, perjumpaan umumnya terjadi pada kawasan di atas 1.000 meter.

Lingkungannya pun cukup khas.

Puyuh ini menyukai lantai hutan dengan tutupan kanopi yang masih rapat. Kondisi tersebut menyediakan perlindungan sekaligus mendukung keberadaan sumber makanan di permukaan tanah.

Aktivitas mencari makan banyak berlangsung pada pagi hari. Kemudian, aktivitas kembali meningkat pada sore menjelang malam.

Pola ini membuat pemantauan membutuhkan strategi khusus. Peneliti tidak cukup hanya datang ke hutan lalu menunggu burung terlihat.

Kamera Jebak Membantu Peneliti UNEJ

Arif dan tim memakai kamera jebak atau camera trap untuk memahami kehidupan puyuh gonggong biasa di habitat aslinya.

Teknologi tersebut memungkinkan peneliti merekam aktivitas satwa tanpa terus berada di lokasi. Dengan demikian, perilaku hewan dapat terekam dengan gangguan manusia yang lebih sedikit.

Penelitian lapangan sebelumnya bahkan memasang kamera pada sejumlah tingkat ketinggian, yakni sekitar 500, 1.000, 1.500, dan 2.000 meter di kawasan Ijen-Merapi Ungup-Ungup. Tim menggabungkan survei langsung dengan kamera jebak untuk mempelajari distribusi, populasi, dan kesesuaian habitat.

Metode ini tidak hanya menangkap keberadaan puyuh.

Dalam pengamatan di kawasan Pegunungan Ijen, kamera juga merekam satwa lain seperti ajag, merak, hingga macan tutul. Fakta tersebut memperlihatkan betapa pentingnya hutan pegunungan Jawa Timur bagi berbagai spesies.

Riset Berlangsung Selama Beberapa Tahun

Penelitian terhadap burung ini bukan kegiatan singkat.

UNEJ menyebut Arif telah melakukan pengamatan selama sekitar tiga tahun di Pegunungan Ijen dan Taman Nasional Meru Betiri ketika universitas mempublikasikan hasil pengamatannya pada Juni 2026.

Fokus penelitian pun berkembang.

Data FMIPA UNEJ menunjukkan adanya penelitian mengenai estimasi populasi dan kesesuaian habitat Arborophila orientalis di Gunung Ijen. Selain itu, tim juga menjalankan pemodelan kesesuaian habitat di Taman Nasional Meru Betiri sebagai bagian dari upaya konservasi.

Penelitian jangka panjang seperti ini penting. Tren populasi satwa sulit dipahami hanya melalui satu kali survei.

Puyuh Gonggong Biasa Berstatus Rentan

Keunikan puyuh gonggong biasa berjalan beriringan dengan risiko yang dihadapinya.

Basis data taksonomi ITIS mencatat Arborophila orientalis sebagai spesies yang masuk kategori Vulnerable dalam IUCN Red List. Dokumen BirdLife juga mengaitkan status tersebut dengan penurunan populasi serta fragmentasi habitat akibat kehilangan dan degradasi hutan.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena wilayah persebarannya relatif kecil.

Spesies dengan jangkauan geografis sempit biasanya menghadapi risiko lebih tinggi ketika habitat utama mengalami perubahan. Mereka tidak selalu memiliki banyak kawasan alternatif untuk berpindah.

Alih Guna Lahan Jadi Ancaman

Peneliti UNEJ menyoroti alih guna lahan sebagai salah satu ancaman utama.

Perubahan kawasan berhutan dapat mengurangi tutupan kanopi serta merusak lantai hutan yang menjadi lokasi aktivitas puyuh tersebut. Pada akhirnya, kondisi itu dapat mengurangi ruang hidup sekaligus sumber makanan.

Fragmentasi juga dapat memisahkan kelompok satwa.

Jika petak hutan terputus-putus, hewan semakin sulit berpindah dan bertemu kelompok lain. Dalam jangka panjang, masalah tersebut berpotensi memengaruhi kestabilan populasi.

Perburuan Liar Ikut Mengancam

Selain kerusakan habitat, perburuan liar menjadi tekanan lain bagi puyuh gonggong biasa.

Burung yang memiliki sebaran terbatas membutuhkan perlindungan ekstra karena kehilangan beberapa kelompok saja dapat memberikan dampak berarti terhadap populasi lokal.

Menurut keterangan UNEJ pada Juni 2026, spesies ini belum masuk daftar satwa yang dilindungi secara khusus meskipun status konservasinya rentan. Karena itu, peneliti mendorong penguatan perlindungan terhadap burung tersebut.

Langkah konservasi tentu tidak hanya bergantung pada regulasi.

Pengawasan kawasan, perlindungan habitat, edukasi masyarakat, dan penelitian populasi perlu berjalan bersamaan.

Pegunungan Ijen Menyimpan Puluhan Jenis Burung

Penelitian sebelumnya memberikan gambaran mengenai kekayaan avifauna di kawasan Ijen.

Dalam penelitian yang dilakukan bersama tim pada 2021, Arif mencatat 57 spesies burung di Pegunungan Ijen. Sepuluh di antaranya tergolong burung yang dilindungi menurut keterangan UNEJ.

Beberapa spesies yang tercatat antara lain burung madu gunung, elang hitam, julang emas, dan cekakak Jawa.

Keberadaan puyuh gonggong biasa membuat daftar biodiversitas tersebut semakin istimewa.

Namun, angka 57 spesies juga menunjukkan bahwa menjaga habitat puyuh tidak hanya bermanfaat bagi satu jenis burung.

Perlindungan hutan akan membantu mempertahankan banyak spesies sekaligus.

Berpotensi Jadi Ikon Fauna Pandalungan

Peneliti UNEJ melihat potensi puyuh gonggong biasa sebagai fauna khas kawasan Pandalungan.

Gagasan tersebut cukup relevan karena spesies endemik dapat membangun identitas daerah. Komodo menjadi contoh kuat bagaimana fauna khas mampu menjadi simbol konservasi sekaligus identitas sebuah wilayah.

Tentu, pendekatannya tidak boleh berhenti pada pembuatan maskot.

Status sebagai ikon justru harus mendorong masyarakat memahami habitat, ancaman, dan alasan spesies tersebut perlu dipertahankan.

Selain itu, pengenalan fauna lokal dapat memperkuat rasa memiliki.

Masyarakat yang mengetahui bahwa spesies tertentu hanya hidup di wilayah mereka cenderung memiliki alasan lebih kuat untuk menjaga lingkungan tempat hewan itu bertahan.

Puyuh Gonggong Bisa Mendukung Wisata Bird Watching

Ada peluang lain dari keberadaan burung endemik tersebut, yakni wisata pengamatan burung atau bird watching.

UNEJ menilai keragaman burung di Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri dapat menjadi modal pengembangan wisata minat khusus.

Wisata semacam ini berbeda dengan wisata massal.

Pengamat burung biasanya mencari pengalaman melihat satwa di habitat asli. Karena itu, hutan yang terjaga justru menjadi aset utama.

Jika pengelolaannya tepat, bird watching dapat menghasilkan manfaat ekonomi tanpa harus menangkap atau memindahkan satwa.

Namun, pengelola tetap perlu membatasi gangguan.

Pengunjung harus menjaga jarak, menghindari suara berlebihan, tidak memberi makan satwa sembarangan, dan mengikuti jalur yang tersedia.

Mengapa Penelitian Puyuh Gonggong Perlu Dilanjutkan?

Masih banyak pertanyaan tentang puyuh gonggong biasa yang membutuhkan jawaban.

Peneliti perlu mengetahui berapa jumlah populasinya, bagaimana perubahan populasinya dari tahun ke tahun, kawasan mana yang menjadi habitat terpenting, serta bagaimana burung tersebut merespons perubahan lingkungan.

Data semacam itu menjadi dasar konservasi berbasis bukti.

Tanpa data, pemerintah dan pengelola kawasan akan kesulitan menentukan wilayah prioritas atau mengukur efektivitas program perlindungan.

FMIPA UNEJ sendiri telah memasukkan penelitian terkait pemodelan habitat dan estimasi populasi spesies ini dalam kegiatan risetnya.

Artinya, studi mengenai burung tersebut mulai bergerak dari sekadar pencatatan keberadaan menuju pemahaman habitat yang lebih mendalam.

Menjaga Puyuh Gonggong Berarti Menjaga Hutan

Konservasi puyuh gonggong biasa pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari perlindungan hutan pegunungan.

Burung ini membutuhkan kanopi rapat, lantai hutan yang mendukung aktivitas mencari makan, serta kawasan yang cukup luas untuk mempertahankan kelompoknya.

Dengan demikian, upaya melindungi satu spesies juga dapat memberikan manfaat bagi keseluruhan ekosistem.

Ajag, merak, macan tutul, berbagai burung hutan, tumbuhan, serangga, hingga organisme kecil di tanah memakai ruang ekologis yang saling berhubungan.

Jika hutan rusak, dampaknya tidak berhenti pada satu jenis satwa.

Sebaliknya, ketika kawasan tetap sehat, banyak spesies mendapat peluang lebih besar untuk bertahan.

Kesimpulan

Puyuh gonggong biasa merupakan salah satu kekayaan fauna Jawa Timur yang memiliki nilai ilmiah sekaligus identitas lokal yang kuat. Burung bernama ilmiah Arborophila orientalis ini hidup terbatas di kawasan pegunungan Jawa Timur bagian timur, termasuk Hyang Argopuro, kompleks Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri.

Suara yang menyerupai gonggongan, kebiasaan hidup berkelompok, serta ketergantungannya pada hutan dataran tinggi membuat spesies ini sangat khas.

Sayangnya, statusnya kini rentan. Hilangnya habitat, fragmentasi hutan, dan perburuan menjadi ancaman yang membutuhkan perhatian serius.

Penelitian UNEJ melalui survei lapangan, kamera jebak, estimasi populasi, dan pemodelan habitat memberi fondasi penting bagi upaya konservasi.

Namun, penelitian saja tidak cukup.

seogates123@gmail.com

Share
Published by
seogates123@gmail.com

Recent Posts

GPS Alami Merpati Terungkap, Rahasianya di Hati

thebirdsnestpub - GPS alami merpati ternyata jauh lebih unik daripada dugaan para ilmuwan selama ini.…

4 jam ago

Rumah Penuh Ratusan Merpati Viral, Kondisinya Miris

thebirdsnestpub - Rumah penuh ratusan merpati di Pennsylvania, Amerika Serikat, mendadak menjadi perhatian setelah tim…

4 jam ago

Taman Nasional Bogani Wartabone Simpan Ratusan Burung Endemik

thebirdsnestpub - Taman Nasional Bogani Wartabone menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di banyak destinasi wisata…

3 bulan ago

Kabar Terbaru tentang Burung dan Hewan: Fakta Menarik dan Upaya Konservasi

thebirdsnestpub - Burung Cenderawasih Kembali ke Habitat menjadi kabar menggembirakan bagi pecinta satwa liar dan…

4 bulan ago